terinjaklah irisan biru
yang satu demi satu terbakar
malam yang kelam
rindu tangis yang sangat mendalam
tiada pelukan malam lagi
tiada kecupan dimanapun aku berada
hanya sendiri dan terasingkan dari semuanya
bersama raungan angin malam
menatap mega tak bercahaya
kelam penuh luka
menetes demi tetes dari sayatan ini
tegenggam di tiang penegak
semua terdiam aku sendiri
melangkaj dan berdiri disana
menunggu selotip untuk menyatukannya lagi
menunggu sang mega penuh cahaya lagi
irisan biru jadi satu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar