remang ketika dua katup ini kembali ku buka,
untuk memulai segalanya dalam waktu yang diujungkan lelah.
saat tubuh ini masih terebah lemas,
kupejamkan lagi mataku,
dalam hati berteriak kencang,
memohon dan bercerita tentang apa yang tertulis.
mengharapkan senyuman, tawa...
untuk sang pujaan dan kepadaNya aku bersujud.
hati yang bergelora sepi memiliki rimbun tak berarti
masih saja bertahan
bahkan sijenius pun lupa kalau dirinya dulu tak bisa dibodohi
beranjak dari tempatku terlentang, memandang secarik kertas.
mengelusnya lembut...
senyum tipis menutupi tawa kecil..
dalam hati menahan rindu
dan maka ucapan pasti hanya satu pada kertas itu...
'hai, selamat pagi.' :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar