saya seorang murid sma biasa anak biasa, gak ada yang lebih, saat ini semua terjadi saya memiliki seorang kekasih yang sangat saya sayangi, dan saya bahagia bersamanya, dan mungkin terlalu dini untuku merasakan kebahagiaan dari cinta, tapi nasi telah menjadi bubur, saya terlanjur benar benar mencintainya, suatu ketika, "sebenarnya saya anak yang suka mecem macem" saat itu saya mencoba berkali kali untuk membuktikan apakah cintaku sepadan dengan cintanya? dan saya mencoba untuk membuatnya cemburu, membuatnya menjadi gelisah, sedih dan lain sebagainya, itu semua semata mata hanya untuk mengetahui apakah dia benar benar mencintaiku.
kali ini aku mencoba membuatnya marah, dan ternyata karna saya sendiri tidak sadar sering menyakitinya dan belum sempat untuk menyampaikan tujuan saya, dia malah pergi tanpa pamit.
saat itulah hatiku hancur, untuk seorang laki laki kehilangan cinta pasti sama dengan kehilangan tujuan hidup, hampa, bingung dan semua gelisah akan bercampur aduk.
terlihat sebuah air mata jatuh saat itu, melihat kenyataan dia bahagia dengan cinta lain, dan itu sudah terlambat untuk sebuah penjelasan sesingkat apapun, yang ada hanya, "aku turut bahagia atas kebahagiaanmu" adalah kata yang terucap, disini aku masih belum terima, mengejarnya, menariknya, memaksanya untuk kembali lagi, dan tak ada hasilnya,
setelah sekian lama, akhirnya mulai merelakan suatu hal, aku harus tenang menunggunya tanpa ada embel embel apapun, dan itu hanyalah A + B = :(
melepas,
merelakanya melihatnya tertawa, hanya ikut tertawa atau diam, menahan rasa cemburu atau sakit hati, bersabar, semuanya tampak susah tapi percayalah melepas adalah "sesuatu yang lebih baik." untuk dia. yang tercinta yang terkasih.
dan seorang pakar matematika cinta mengatakan.
Life + love = happy
Life
– love = sad
………………………………………..
+
2life
= happy + sad
life
= 1/2 happy + 1/2 sad
Tidak ada komentar:
Posting Komentar